Waktu di layar laptop menunjukan jam 22.13 WIB, ketika ku mulai membuat resume Pertemuan ke -20 Kelas BM. Tema Menguak Dapur Penerbit Mayor. Narasumber Edi S. Mulyanta dari Penerbit ANDI Yogyakarta, sejak tahun 2002. Berbagai jabatan telah disandang, mulai dari staff Litbang sampai posisi publishing consultant & e-book development. Moderator Muliadi.
Narasumber memaparkan sudah 20 tahun mengelola penerbitan buku, awalnya beliau adalah penulis buku mandiri yang hidupnya full dari menulis buku. Kemudian dipercaya untuk mengelola penerbitan buku di Yogyakarta.
Istilah penerbit mayor sebenarnya mengacu pada jumlah produksi buku yang dihasilkan dalam satu tahun. Penerbit dengan jumlah terbitan di atas 200 judul per tahun dianggap sebagai penerbit skala mayor.
Semasa pandemi, Penerbit Andi tetap menerbitkan buku di atas 200 judul, meskipun terkendala produksi yang sempat tutup karena outlet toko buku juga terdampak pandemi.
Tahun 2019 merupakan tahun yang paling berat dalam dunia penerbitan buku, karena perubahan teknologi betul-betul seperti bayang-bayang kelam yang dapat melahap dunia penerbitan buku di Indonesia bahkan di dunia. Runtuhnya dunia surat kabar, merupakan pukulan telak bagi dunia cetak, dan informasi berupa cetakan. Dunia penerbitan yang saat ini di bawah IKAPI (Ikatan Penerbit Indonesia), menjadi was-was dan memandang cukup berat tantangan ke depan dunia cetak dan produksi buku. Undang-undang No. 3 tahun 2017 tentang sistem perbukuan, telah memberikan isyarat yang tegas akan hadirnya format media digital yang telah diberikan keleluasaan untuk secara bertahan menggantikan dunia cetak. Dipertegas lagi dengan keluarnya Peraturan Pemerintah No. 75 tahun 2019, telah memberikan petunjuk secara tegas untuk memberikan arah ke dunia digital di penerbitan.
Selama pandemi, buku format digital masih merupakan embrio yang belum menghasilkan keuntungan yang sama dengan buku fisik. Sehingga masa depan buku fisik masih sangat menarik untuk dicermati oleh Penerbit Andi.
Buku seperti apakah yang dapat menembus penerbit mayor?
Buku yang dapat menembus penerbit mayor adalah jenis buku yang mengikuti PP 75/19 pelaksanaan UU 3/17, dengan kriteria sebagai berikut:
A. PAUD-DIKDASMEN
- Teks Utamma (Guru dan siswa)
- Teks Pendamping (luas, dalam, lengkap)
- Non Teks (Pengayaan, referensi, panduan)
- Teks Perti (Buku ajar)
- Non Teks (Referensi, MOU/Kerjasama)
- Fiksi
- Non Fiksi
- Penerjemahan
- Impor
Ada 4 kuadran yang digunakan oleh penerbit dalam menentukan buku tersebut layak terbit atau tidak di dasarkan pada keilmiahan dan besar market. Kuadran yang menarik bagi penerbit adalah buku yang punya market besar, dan tentunya diimbangi dengan kualitas yang ideal walaupun cukup sulit mencari kuadran buku yang ideal.
Kendala utama untuk terbit adalah keterbatasan modal penerbit, sehingga penerbit akhirnya memberikan syarat-syarat dan saringan untuk dapat mendapatkan naskah yang mendukung industrialisasi buku tetap berjalan.
Penerbit biasanya akan melakukan scouting , atau pencarian tema dan penulis, dan tentunya bekerjasama dengan team riset pemasaran untuk menentukan tema apa yang masih dapat diserap pasar. Penerbit, tidak dapat mengesampingkan data pasar buku di Indonesia, sehingga data pemasaran ini sangat penting untuk memberikan arah haluan ke mana produksi buku dapat dikembangkan lebih lanjut Team riset pemasaran akan memberikan data awal kemana outlet yang menguntungkan, meskipun saat ini masih dalam situasi pandemi.
Berikut terbitan dari Andi Press dalam format digital di www.pbuandi.com dan bukudigital.my.id. Materi di open 20% sehingga dapat dipelajari outline buku, judul buku, pembagian per babnya, dan lain-lain.
Tulislah perencanaan naskah untuk ditawarkan ke penerbit, dengan cara ATM yang sangat populer Amati, Tiru, dan Modifikasi. Penerbit mayor biasanya mempunya dana untuk memilih terbitan buku yang menjadi sasarannya, sehingga semua biaya produksi hingga pemasaran dilakukan oleh penerbit tersebut. Konsep dasar pembiayaan dalam penerbitan buku, adalah penerbitnya yang membiayai. Namun banyak tulisan yang tidak sesuai dengan misi dan visi penerbit akhirnya tidak dapat terbit.
Banyaknya buku yang ditolak penerbit, akhirnya penerbit memberikan skema lain dalam penerbitannya. Misalnya dibiayai oleh penerbitnya sendiri, baik melalui skema dana pribadi, CSR Perusahaan, Dana Penelitian Daerah, Dana Sekolah dan lain-lain
Trik yang dapat digunakan dan cukup mujarab adalah menulis berbarengan dengan pembiayaan gotong royong antar penulis. Banyak plus minus nya apabila menulis keroyokan, terutama angka kredit yang kecil karena dibagi beberapa penulis. Banyak penerbit-penerbit saat ini menawarkan layanan hal tersebut.
Konsentrasi penulis adalah di Materi yang otentik, dan unik. Penerbit akan membantu dalam hal Pembahasaan dan Penyajian
Mantap buk Nur sudah sangat bagus dan rapi tulisannya
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusLuar Biasa. Sukses selalu. Aamiin
BalasHapusMakin top markotop Bu....Sukses selalu......
BalasHapusSemangat sibuk akhir-akhit ini ya Bun
BalasHapusIya say...😁
HapusSemangat Bu, buku Solonya segera munculkan 😁
BalasHapusSemangat menerbitkan buku solo Bu...
BalasHapusSepertinya ada kegiatan yang mendesak ya bu? namun selalu menarik untuk dibaca. sepertinya sudah siap diterbitkan buku solonya ya bu?
BalasHapusBetul Pak Frans, Bulan Maret kegiatan sudah mulai full.. tetap semangat.. semoga buku Solo segera kita tuntaskan bersama
HapusSemangat selalu bun. Ada kewajiban utama, menyangkut siswa didik. Tapi bunda selalu dan pasti bisa. Ditunggu buku solonya.
BalasHapus