Mengangkat kembali essay yang kubuat dalam 10 menit saat mengikuti Lomba Guru Berprestasi Tahun 2019, judul ini kembali kuangkat untuk Program Lage Kamis menulis. "Menelisik Hal Positif dari Sebuah Keburukan", dengan beberapa tambahan.
Ada pendapat beberapa para ahli yang menyatakan, bakat merupakan kondisi yang ada di dalam diri seseorang jika memungkinkannya dengan latihan-latihan khusus dalam mencapai pengetahuan, ketrampilan khusus, serta kecakapan. (Sarwono). Menurut William, Bakat adalah kapasitas yang ada pada diri seseorang yang mana dalam melakukan tugas serta melakukannya dipengaruhi oleh latihan yang sudah dijalaninya.
Menurut M. Ngalim Purwanto, bakat adalah kecakapan pembawaan, yang mana mengenai kesanggupan dan potensi tertentu yang dimiliki oleh seseorang.
Dari beberapa pendapat para ahli di atas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa bakat adalah potensi yang dimiliki seseorang sejak lahir dan jika diberikan pelatihan dan bimbingan maka akan menghasilkan suatu kemampuan yang melebihi orang lain.
Kaitannya dengan judul diatas maka bakat guru adalah potensi yang dimiliki seorang guru, sementara guru berbakat adalah guru yang memiliki motivasi dan potensi kemampuan melebihi orang lain yang jika diikuti dengan pelatihan-pelatihan khusus maka akan menemukan potensi baru pada dirinya.
Hal ini tidak lepas dengan 4 kompetensi yang harus dimiliki seorang guru dalam Permendiknas No.16 tahun 2007, yang terdiri dari empat domain, yaitu: kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional. Serta 4 pilar pendidikan UNESCO yaitu learning to know, learning to do, learning to be dan learning to live together.
Semua guru memiliki bakat tetapi tidak semua guru berbakat, hal ini dapat diukur dengan melihat potensi masing-masing guru dalam mengaktualisasi dirinya dalam proses mendidik, mebimbing dan mengajar berdasarkan 4 kompetensi guru dan 4 pilar pendidikan UNESCO yang harus dimiliki seorang guru sehingga guru tersebut dinyatakan sebagai buru berbakat.
Proses untuk menjadi guru berbakat dapat melalui pelatihan-pelatihan, pendidikan, kursus-kursus yang berkaitan dengan kompetensi guru, namun tidak semua pelatihan ini akan menghasilkan guru berbakat jika tidak diimplementasikan dalam kinerja profesinya sebagai guru.
Bakat hanya akan mengendap tanpa ada dorongan hati, motivasi yang disinergikan dengan kinerja. Akan sangat disayangkan sementara peluang dan kesempatan ada namun dilewati.
Semua kembali kepada personal masing-masing guru to be or not to be.

Waduh.. produktif sekali.. dan cemerlang ide tulisannya..
BalasHapusPadahal saya baru sedang mencerna temanya.. hehe
Hihi, mengangkat judul esaay lama waktu ikut Gupre bu tahun 2019
Hapuscepettttt
BalasHapusmeluncur pak cip, heheh
HapusSeperti kena tegur baca tulisan ini
BalasHapusTulisannya juga mantap, banyak informasi dan ilmu baru yang saya dapat
Terimakasih Bu Guru
Sehat selalu yaa
Terima kasih pak Indra, sehat selalu tuk pak Indra
HapusTidak hanya cukup dengan merasa punya bakat, ya Bu?
BalasHapusSip lah.....
Hehe..iya bu..
HapusHarus diasah terus talentanya
BalasHapusGuru harus tetap belajar, semua guru memiliki bakat tapi tidak semua guru berbakat. Sip terimakasih buk.. tekah mengingatkn kita sebagai guru harus bersenangat untuk bisa lebih baik.
BalasHapusTerus mengasah bakat yang ada untuk memaksimalkan potensi.
BalasHapus